Tugasan: Penyampaian  surat Roma 11:1-12, kata kunci, kesusasteraan, ajaran ajaran utama yang ditekankan dalam teks dan kontekstualisasi.

Nama pelajar: Manuel Bin Akiun

Tarikh: 8hb April 2020

 

Latar Belakang

            Penulis surat Roma adalah Paulus (Roma 1:1). Surat Roma adalah surat Paulus yang paling panjang berbanding surat surat yang lain, mengandungi 16 fasal. Surat paling teologis dan paling berpengaruh. Mungkin sebab inilah surat Roma berada di depan dalam urutan penyusunan surat surat Paulus dalam Alkitab.

Surat Roma ditulis ketika dia sedang merancang untuk mengadakan misi ke Spanyol. Jemaat  Roma bukan dimulakan oleh para Rasul atau pun Paulus sendiri, jemaat Roma tidak mengenal  Paulus sebab itu Paulus perlu memperkenalkan dirinya sebagai hamba Kristus Yesus yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah (Roma 1:1b).

 Jemaat Roma mungkin didirikan oleh orang Kristian dari Makedonia dan Asia Kecil hasil misi penginjilan Paulus. Mungkin juga oleh orang-orang Yahudi yang bertaubat dan menerima Injil pada waktu Pentakosta (Kis 2:10).

            Paulus menulis surat Roma ketika berada di rumah Gayus di Korintus (Roma 16: 23; 1Korintus 1:14), sekitar tahun 57 atau 58 Masihi, Paulus bersama pembantunya Tertius (Roma 16: 22). Pada masa itu Paulus sedang merancang untuk balik ke Yerusalem untuk merayakan Pentakosta (Kis 20:16). Selepas dari Yerusalem Paulus berharap dapat meneruskan perjalanan misinya ke Eropah barat kususnya di Spanyol dalam masa yang sama dia berharap dapat singgah di Roma dan mendapat bantuan kewangan daripada jemaat Roma (Roma 15:24,28). Sambil menyelam minum air, itulah tujuan Paulus menulis dan mengunjung jemaat Roma. Mungkin kita pun pernah berada dalam situasi seperti Paulus, contohnya kita mengunjungi seseorang dalam masa yang sama kita berharap Roh Kudus lembutkan hatinya agar dia memberi sesuatu kepada kita. Sebab inilah surat Paulus untuk jemaat Roma sangat teliti dan bahasa yang digunakan halus berbanding surat surat yang lain yang agak berterus terang dan kasar, seperti surat  Galatia, Paulus mengungkapkan perkataan bodoh sebagai mengambarkan jemaat Galatia (Galatia 3:1).

Tujuan

1)      Persiapan Paulus untuk misi pelayananya di Roma dan ke Spanyol. 

2)      Menjawab pengajaran yang memutarbelitkan ajaran Paulus di Roma (Roma 3:8, 6:1-2,15). Paulus merasakan ada baiknya dia menulis tentang Injil yang diberitakannya selama dua puluh lima tahun kepada jemaat di Roma.

3)      Paulus cuba memperbaiki hubungan antara Kristian Yahudi dan Kristian bukan Yahudi yang selalu ada salah faham dan menyebabkan pertengkaran (Roma 2:1-29; Roma 3:1,9; Roma 11:11-36).

Ajaran-Ajaran utama dalam Teks (Roma 11: 1-12)

1)      Allah tidak menolak bangsa Israel (ayat 1-4). Paulus membuktikan bahwa Allah tidak menolak bangsa Israel sebab dia sendiri adalah orang Israel dari suku Benyamin. Allah masih lagi menyisihkan sekumpulan umat Israel yang menerima Injil.

Paulus mengambil contoh kisah pada zaman nabi Elia. Pada masa itu raja Israel (Ahab) telah membunuh semua nabi TUHAN dan telah merobohkan mezbah-mezbah untuk TUHAN. Elia menyangkah tinggal dia lagi orang Israel yang masih menyembah Allah. Tetapi Allah masih menyisihkan tujuh ribu orang yang tidak pernah menyembah Baal. Allah sendiri yang menyisihkan bukan kuasa manusia atau sebab pelayanan Elia.

2)      Kasih karunia (ayat 5-6) Tidak dapat tidak teologi kasih karunia adalah inti pengajaran Paulus pada kebanyakan suratnya, begitu juga dalam teks ini. Bagi Paulus kisah tujuh ribu orang yang TUHAN sisihkan yang tidak menyembah berhala bukanlah hasil perbuatan mereka tetapi pilihan kasih karunia Allah sendiri. Sebab bukanlah kasih karunia kalau hasil perbuatan seseorang. 

3)      Bangsa Israel tersandung (ayat 7-12). Bagi Paulus bangsa Israel umpama tersandung dengan kekerasan hati mereka menolak Injil, apa yang mereka kejar mereka tidak dapat sebab kekerasan hati mereka. Kekerasan dan pelenggaran bangsa Israel telah menjadi kekayaan dan kesempurnaan bagi bangsa bukan pilihan untuk mengenal Injil. Dengan kata mudah kalau bukan sebab bangsa Israel keras hati kita tidak akan mengenal Injil.

Kesusasteraan (Roma 11: 1-12)

1)      Peribahasa mata terbuka tetapi tidak melihat. Peribahasa yang selalu digunakan dalam Perjanjian Lama yang merujuk kepada bangs Isarel yang buta secara rohani seperti dalam Ulangan 29:4, Yesaya 29: 10 dan Mazmur 69: 23-24. Tuhan Yesus sendiri pernah menggunakan peribahasa ini dalam Matius 13:14. Penggunaan pribahasa penting dalam pengajaran supaya pendengar boleh berfikir dan tidak tersinggung atau marah. Paulus juga menggunakan perumpamaan ini untuk mengambarkan orang Israel yang tidak menerima Injil sebab mata rohani mereka tidak melihat kebenaran Injil. Tetapi dalam masa yang sama Injil telah disampaikan kepada bangsa lain kerana kebanyakan bangsa Israel menolaknya. Bagi Paulus kebutahan mata rohani bangsa Israel menjadi keuntugan kepada bangsa lain. Secara tersiratnya Paulus mengajak bangsa lain yang ada dalam jemaat Roma tidak memandang hina bangsa Israel yang menolak Injil sebaliknya berterima kasih kepada mereka.

Kontekstualisasi

            Dalam teks ini Paulus mengemukakan satu persoalan bagi menjawab persoalan jemaat di Roma dan mungkin juga kepada kita hari ini. “ Adakah Allah telah menolak umat pilihan-Nya?” Sekiranya Allah telah menolak mereka ini bererti Allah telah membatalkan janjinya kepada Abraham, atau mungkinkah keturunan Abraham yang dimaksudkan oleh Allah bukan secara biologi tetapi secara rohani.

            Orang Yahudi sangat bangga sebab mereka adalah keturunan Abraham, memang mereka adalah keturunan Abraham secara biologi Yesus sendiri mengakui bahwa orang Yahudi adalah keturunan Abraham ( Yohanes 8:37), walaupun begitu keturunan Abraham bukan hanya bermaksud secara biologi tetapi melakukan seperti yang dilakukan oleh Abraham (Yohanes 8:39). Tetapi orang Yahudi pada masa itu tidak mendengar ajaran Yesus malahan berusaha membunuh Yesus sedangkan Yesus datang daripada Allah dan mengajar kebenaran daripada Allah. Abraham setia dengan Allah sedangkan orang Yahudi tidak mahu mendengar perkataan  Yesus. Bagi  Yesus keturunan Abraham mereka yang melakukan apa yang dilakukan oleh Abraham bukan sebaliknya ( Yohanes 8:40). Kerana perbuatan orang Yahudi menentang Yesus dengan sendirinya bapa mereka bukan lagi Abraham tetapi Iblis (Yohanes 8:44). Begitu juga dengan kita hari ini, kalau kita mengaku sebagai orang Kristian tetapi tidak melakukan perbuatan yang dilakukan oleh Yesus dengan sendirinya kita bukan lagi pengikut Yesus.

Jelaslah bahwa menjadi keturunan Abraham bukan hanya secara biologi tetapi mengikuti perbuatan Abraham yang beriman kepada Allah dan bagi kita pula mendengar dan melakukan ajaran Yesus itulah yang menjadikan kita keturunan Abraham.

Persoalan kedua yang menarik untuk dibincangkan ialah umat Israel yang tersisa. Paulus mengangkat kisah nabi Elia yang melarikan diri kerana takut kepada raja Ahab yang mahu membunuhnya (1Raja-Raja 19:1-18). Setelah berada jauh daripada raja Ahab Elia bertemua dengan Allah dan mengadu masalahnya dan mendakwa tinggal dia seorang lagi nabi yang tidak dibunuh. Rupanya Elia tidak mengetahui bahwa Allah masih lagi menyisihkan seramai tujuh ribu orang yang tidak pernah menyembah Baal (ayat 4). Bagi Paulus inilah sisa menurut kasih karunia. Bagi kita yang orang Kristian yang menjadi minoriti dalam negara Malaysia, sedikit sebanyak memahami maksud ada lagi sisa. Boleh dikatakan kitalah rakyat Malaysia yang tersisa daripada mejoriti rakyat yang tidak beriman kepada Yesus. Kita hanya membentuk 8-9 % daripada 40 juta penduduk malaysia atau lebih kurang 3.5 juta jumlah kita. Boleh dikatakan masih ramai.

Begitu juga dengan orang Isarel walaupun kebanyakan mereka menolak Yesus tetapi ada juga sisa yang tertinggal yang setia kepada Yesus Kristus. Ada orang yang sangat sedih apabila rakan karibnya murtad atau ada ahli keluarganya yang murtad, ya memanglah kita sedih tetapi Allah masih ada untuk mengawal keadaan di luar daripada pengetahuan kita. Kita sering menganggap inilah kehancuran tiada lagi harapan.

Baru baru ini kita melihat viral beberapa buah gereja di Indonesia dirobohkan oleh pihak berkuasa sebab tidak ada keizinan/permit, syukur di Malaysia belum sampai ketahap itu ketegasan kerajaan. Kita lihat dalam viral tersebut ada yang menangis, berteriak, meraung raung ketika bangunan gereja mereka dirobohkan. Ada juga yang menyeruh nama Tuhan Yesus meminta tolong. Sekali lagi jangan hilang harapan, Allah akan menyediakan sisa untuk kita meneruskan kehidupan. Elia hilang harapan sebab dia menaruh kepercayaan kepada fikirannya sendiri, tetapi Allah tidak seperti yang difikirkan oleh Elia.

Kehidupan umat Kristian hari ini pun masih bergelut dengan fikiran sendiri, selalu membuat kesimpulan menurut penilaian sendiri. Menyebabkan kita cenderung membesar besarkan masalah. Contohnya ada anggota jemaat yang sudah bertahun tidak hadir kebaktian dengan mudah kita membuat kesimpulan bahwa orang itu tidak lagi beriman, sedangkan masa wabak Covid-19 sudah 9 minggu (13.5.2020) kita tidak beribadah digereja tetapi iman kita kepada Tuhan Yesus tidak pudar. . Belum tentu benar seperti yang kita fikirkan. Kita mesti belajar berharap kepada pekerjaan, kemahakuasaan Allah yang tidak tergapai oleh fikiran manusia dan kasih karuniaNya.

Ada orang di kampung kami, lebih kurang 25 tahun kami tidak berjumpa. Sebab mereka telah berhizrah ke daerah lain. Saya hanya mengetahui semua ahli keluar mereka telah meninggalkan iman kepada Yesus Kristus. Saya sedikit  pun tidak berfikir ada lagi ahli kelurga mereka yang masih setia termasuk dia sendiri. Tetapi awal tahun sebelum merebak wabak Covid-19, tiba tiba dia balik kampung dan paling saya terkejut dia hadir kebaktian umum hari minggu. Selepas kebaktian selesai, saya cepat-cepat berjabat tangan dengan dia sebab sudah terlalu lama kami tidak berjumpa. Saya masih ragu ragu status imanya sebab ada juga orang kampung kami yang hadir ke gereja walaupun sudah murtad. Secara selamba saya bertanya masih Kristian atau macam mana. Dia cakap masih Kristian. Memang benar apa yang diperkatakan oleh Paulus Allah masih menyisihkan bagiNya.

Persoalan ketiga yang menarik perhatian saya iaitu tentang hati orang Israel dikeraskan ...tetapi orang-orang yang terpilih telah memperolehinya. Dan orang-orang yang lain telah tegar hatinya,(ayat7) … “Allah membuat mereka tidur nyenyak, memberikan mata untuk tidak melihat dan telinga untuk tidak mendengar sampai kepada hari ini” (ayat 8)

Paulus mengutip kata kata nabi Yesaya 29: 10 dan kata kata Musa dalam Ulangan 29:4. Bagi mengambarkan kerasnya hati orang Isarel untuk menerima ajaran TUHAN sejak zaman Musa, Yesaya dan pada zaman Tuhan Yesus. Paulus mengambarkan umat Israel seperti orang yang mengantuk dan tertidur tidak lagi peka dengan perkataan yang mereka dengar atau lihat.

Ketika Tuhan Yesus sudah mengajar dan memperlihatkan tanda mujizat mereka masih tidak percaya, mengeraskan hati dan meraguiNya termasuk Yohanes Pembabtis sendiri. Inilah yang dipesankan Tuhan Yesus kepada pertanyaan Yohanes Pembabtis tentang dirinya “ orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan khabar baik dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku” Matius 11:5-6. Mereka tetap mengeraskan hati mereka tidak ubah seperti pada zaman Musa, siang dan malam kuasa Allah bersama mereka selama 40 tahun tetapi mereka tetap mengeraskan hati.

Bagi mereka yang menerima Injil, Injil merupakan satu kehidupan yang menghidupkan mereka, seperti pengalaman bangsa kita sendiri, menerima tanpa banyak alasan dan menikmati kemerdekaan daripada perhambaan kepercayaan lama. Tetapi bagi orang yang tidak menerima, Injil umpama suatu kehidupan baru yang mematikan, tanya saja mereka yang menolak Injil apa pandangan mereka, bagi mereka berita khabar baik umpama bau yang mematikan mereka. Hati yang keras untuk menerima Injil bukan hanya bangsa Isarel tetapi juga bangsa bangsa lain di dunia. Mereka tidak dapat melihat terang atau merasakan sentuhan kasih karunia Injil, mereka buta hati dan keras hati.

Mungkin kita sendiri ada pengalaman berjumpa dengan seseorang yang bersikap seperti ini, ajarlah tegurlah cakaplah tetapi langsung tidak mengesankan dirinya. Paling sedih lagi dia akan menyerang kita balik.

Tetapi ada juga yang kelihatan sangat teruja dengan Injil  tetapi tidak berakar, mereka tidak setia sebab mereka tidak dapat memahami ajara Kristus. Tepatlah ungkapan Yesus "...sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti" (Matius 13: 13)

Ingat lagi ketika Yesus masuk ke kota Yerusalem (Matius 21: 8-11) gempar kota Yerusalem rakyat menghamparkan pakian dan daun daun pada laluan Yesus. Mereka sangat teruja, memuja Dia sebagai raja keturunan raja Daud. Tetapi dalam beberapa hari sahaja pemujaan mereka bertukar dengan teriakan "...Salibkanlah Dia! salibkanlah Dia!"(Lukas 23:21). Begitu cepat hati rakyat berubah. Kebutanan rohani orang Yahudi sampai berlarutan sehingga zaman Yesus dan berlarutan sampai zaman gereja pada zaman kita. Ramai yang memuja Yesus, lihat saja dalam kebaktian kebangunan rohani sampai puluhan ribu malahan ratusan ribu orang datang memuji dan mendengar firman Tuhan. Adakah mereka benar benar memahami dan setia melakukan firman Tuhan yang mereka dengar.

Ini kisah benar seorang ibu kepada pesakit kami mengaku pernah berada di dalam seminari dan mengenal beberapa indvidu dalam gereja kami. Cuma saya tidak tanya adakah dia pelajar seminari di tempat itu atau tidak. Ibu itu tanpa rasa bersalah bercerita dia telah meninggalkan imannya sebab telah berkawin dengan lelaki yang tidak seiman. Lama saya berfikir kalau benarlah ibu ini pernah belajar diseminari dan telah tamat kenapa dengan mudah dia kehilangan iman.

Ada juga pendeta yang sudah sekian lama melayani boleh dikatakan antara pengasas gereja di kampungnya tiba tiba meninggalkan imanya hanya disebabkan perselisihan dalaman gereja mereka. Memang sedih. Kenapa ini semua ini berlaku? Tepatlah ungkapan nabi Yesaya Allah membuat mereka tidur nyenyak(Yesaya 29:10).

Paulus juga mengangkat Mazmur Daud "Biarlah jamuan mereka menjadi jerat dan perangkap, penyesatan dan pembalasan bagi mereka"  (Mazmur 69:23-24) Paulus penggunakan teks Perjanjian Lama supaya para pembacar Yahudi di kota Roma mudah memahami dan boleh berfikir supaya mereka boleh bertaubat. Bila menyebut tentang jamuan orang Yahudi menangapinya sebagi perumpamaan kehidupan yang aman, penuh sukacita tiada perang tiada kelaparan. Malah Yesus sendiri menggunakan jamuan sebagai mengambarkan kesenangan di Surga bersama sama murid-muridNya (Matius 26:29). Kalau jamuan menjadi jerat, perangkap, penyesatan pembalasan apakah maksud Paulus. Jamuan makan maksudnya ialah janji bersama Allah di Surga sebab mereka adalah keturunan Abraham akan tetapi jamuan makan yang menjadi perangakap dan kutukan Allah dan mengubah makanan menjadi racun kerana penolakan Injil Kristus yang disampaikan oleh Paulus. Penolakan Injil oleh bangsa Yahudi umpama hidangan pesta yang lazat bagi bangsa lain (ayat 11).

Walapun begitu adakah Allah membuang orang Yahudi? Tidak, tetapi untuk mengenapi rencana Allah untuk menyelamatkan bangsa lain melalui pemberitaan Injil. Seperti perumpamaan Yesus dalam Matius  22:1-14 ..." orang orang yang pertama-tama diundang tadi tidak layak. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpa di sana ke perjamuan kawin itu". Kitalah orang-orang yang di persimpangan jalan itu, tiada alasan untuk membangakan diri atau menghina bangsa Yahudi.

 Sebab kedudukan kita diperjamuan makan itu bergantung kepada rahmat Allah. Sebab ada juga yang menghadiri pesta itu tidak berpakaian pesta “…Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi” (Matius 22: 12-13). Sekali lagi jamuan makan bertukar menjadi jerat dan perangkap kepada bangs lain kalau kita tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh Yesus Kristus, Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih(Matius 22:14). Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga (Matius 7:21).

Penutup

Rencana Allah untuk menyelamatkan manusia telah disempurnakan melalui kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus tinggal lagi kita membuka hati untuk menerima penyelamatan itu.  “Kerana begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya  setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16)

Sebab itu mari kita lembutkan hati ketika mendengar Injil, fahami dan lakukan dengan setia jangan keraskan hati seperti yang di katakan dalam Ibrani 3: 15 … “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeramaan” penulis kitab Ibrani memetik Mazmur 95:7-9.

Masa depan adalah milik TUHAN bukan milik kita “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancangamu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN” (Yesaya 55: 8). Mari kita lembutkan hati dan terimalah penyelamatan melalui Yesus Kristus selagi ada kesempatan “ Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat” Yesaya 55:6.

 Salam damai untuk kita semua. Sekian.

 

Comments

Popular posts from this blog